Home > Fiqih Islam > Zakat Saham dan Obligasi

Zakat Saham dan Obligasi


Saham ialah surat berharga sebagai tanda bukti banwa pemegangnya turut serta dalam permodalan suatu usaha, seperti NV, CV, Firma, dan sebagainya.

Kurs saham biasanya berubah tergantu kepada maju mundurnya perusahaan/perseroan yang bersangkutan dan juga situasi ekonomi pada umumnya. Karena itu, pemegang saham bisa mendapat untung dan bisa pula rugi.

Pemilih saham wajib menzakati saham-sahanmya menurut kurs waktu mengeluarkan zakat beserta penghasilannya yang lain dan juga harta bendanya yang lain yang terkena zakat, apabila semuanya itu (saham danlain-lain) telah mencapai nisabnya dan Jatuh temponya (haulnya).

Menurut Abdurrahman lsa. tidak semua saham itu dizakati. Apabila saham-saham itu berkaitan dengan perusahaan perseroan yang menangani langsung perdagangan, seperti impor dan ekspor berbagai komoditas nonmigas atau memproduksi tekstil untuk diperdagangkan, maka wajib dizakati seluruh sahamnva. Tetapi apabila saham-saham itu berkaitan dengan perusahaan perseroan yang tidak menangani langsung perdagangan atau tidak memproduksi barang untuk diperdagangkan, seperti perusahaan bus angkutan urnum, penerbangan, pelayaran, perhotelan, dan lain lain di mana nilai saham-saham itu terletak pada pabrik-pabrik, mesin-mesin, bangunan-bangunan dengan segala peralatannya dan lain‑lain, maka pemegang saham tidak wajib menzakati saham-sahamnya, tetapi hanya keuntungan dari saham-saham itu digabung dengan harta lain yang dimiliki oleh pemegang saham yang wajib dizakatinya.

Menurut hemat Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, semua saham perusahaan/perseroan, baik yang terjun dalam bidang perdagangan murni maupun dalam bidang perindustrian dan lain-lain, wajib dizakati menurut kurs pada waktu mengeluarkan zakatnya, sebab saham-saham itu sendiri adalah Surat-Surat berharga yang bisa diperjualbelikan dan kursnya bisa diketahui dengan mudah di Bursa Efek, dan dengan sendirinya zakatnya 2,5% setahun seperti zakat tijarah (perdagangan).

Obligasi, ialah Surat pinjaman dari pemerintah dan sebagainya yang dapat diperdagangkan dan biasanya dibayar dengan jalan undian tiap-tiap tahun.

Kalau pemegang saham suatu perusahaan turut memiliki perusahaannya dan nilai/kurs saham-sahamnya bisa naik-turun, sehingga pemilik sahamnya bisa untung dan rugi, seperti mudharabah (profit and loss sharing), maka berbeda dengan pemilik obligasi sebab ia hanya memberi pinjaman kepada pemerintah, bank, dan lain-lain yang mengeluarkan obligasi dengan diberi bunga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu berlakunya obligasi itu.

Menurut Mahmud Syaltut, eks Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Islam tidak membolehkan obligasi, karena termasuk ribal fadhl, kecuali kalau benar-benar dalam keadaan terpaksa.

Mengenai zakat obligasi ini, selama si pemilik obligasi belum dapat mencairkan uang obligasinya, karena belum jatuh temponya atau belum mendapat undiannya, maka ia tidak wajib menzakatinya, sebab obligasi adalah harta yang tidak dimiliki secara pe-

nuh, karena masih diutang, belum di tangan pemiliknya. Demikianlah pendapat Malik dan Abu Yusuf. Apabila sudah bisa dicairkan uang obligasinya, maka wajib segera dizakatinya sebanyak 2,5%

About these ads
  1. ela
    December 21, 2009 at 9:12 am

    maksih atas infonya ya mas..

  2. ADHY
    September 7, 2010 at 5:11 pm

    SAYA MAU TANYAKALAU SAHAM YG DIMILIKI ADALAH SAHAM YG KITA BELI DARI BURSA SAHAM (MEMILIKI SAHAM PERUSAHAAN TERBUKA/GOPUBLIC) BAGAIMANA MENGHITUNG ZAKATNYA.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: