Home > Fiqih Islam > ADOPSI DAN STATUS HUKUM ANAKNYA

ADOPSI DAN STATUS HUKUM ANAKNYA


bayi adopsiAdopsi mempunyai dua pengertian, ialah:

1)      Mengambil anak orang lain untuk diasuh dan dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang, dan diperlakukan oleh orang tua angkatnya seperti anaknya sendiri, tanpa memberi status anak kandung kepadanya;

2)      Mengambil anak orang lain untuk diberi status sebagai anak kandung sehingga ia berhak memakai nasab orang tua angkatnya dan mewarisi harta peninggalannya, dan hak-hak lainnya sebagai hubungan anak dengan orang tua

Pengertian kedua dari adopsi di atas adalah pengertian menurut istilah di kalangan agama dan adat di masyarakat. Dan adopsi menurut istilah ini telah membudaya di muka bumi ini, baik sebelum Islam maupun sesudah Islam, termasuk di masyarakat Indonesia. Adopsi di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan memakai upacara keagamaan dan dengan pengumuman dan penyaksian pejabat dan tokoh agama agar terang (clear) statusnya. Dan setelah selesai upacara adopsi, maka si anak menjadi anggota penuh dari kerabat yang mengangkatnya, dan terputus hak warisnya dengan kerabatnya yang lama, seperti di Bali.

Di Sulawesi Selatan, anak angkat masih ada hubungan waris dengan orang tua kandung dan keluarganya, dan ia tidak berhak sebagai ahli waris dari orang tua angkat dan keluarganya, tetapi ia bisa diberi hibah atau wasiat. Praktek hukum keluarga atau hukum waris semacam ini di Sulawesi Selatan adalah akibat pengaruh Islam yang cukup kuat di daerah ini.

Dernikian pula di Jawa, anak angkat masih tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan keluarganya, dan ia pun berhak pula sebagai ahli waris dari orang tua angkatnya, tetapi hanya terbatas pada harta peninggalan selain barang-barang pusaka yang berasal dari warisan yang harus dikembalikan kepada kerabat sisuami atau kerabat si istri. Menurut B. Ter Haar Bzn, hak waris anak angkat di Jawa seperti tersebut (tidak penuh hak warisnya atas harta peninggalan orang tua angkat), adalah karena adopsi

di Jawa itu bukan urusan kerabat dan pelaksanaannya tidak dibuat “terang”, artinya tidak pakai upacara keagamaan dan disaksikan oleh pejabat dan tokoh agama. Menurut B. Ter Haar Bzn, di Minangkabau tampaknya tidak ada adopsi. dan kalau hal ini benar, maka karena pengaruh agama Islam yang cukup kuat di daerah itu.

Bagaimana pandangan Islam tentang adopsi? apabila adopsi atau tabanni (bhs. Arab) diartikan sebagai “pengangkatan anak orang lain dengan status seperti anak kandung”, maka jelas Islam melarang sejak turun Surat Al-Ahzab ayat 37:

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (setelah habis idahnya) supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari pada istri-istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Ayat ini merupakan rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an yang menceriterakan tentang kasus rumah tangga Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy. Zaid adalah bekas budak yang dimerdekakan oleh Nabi, kemudian dikawinkan dengan Zainab, saudara sepupu Nabi sendiri. Suami istri ini adalah orang-orang baik dan taat kepada agama. Namun rumah tangganya tidak bahagia, karena perbedaan status sosialnya yang jauh berbeda. Sebab Zainab dari kalangan bangsawan, sedangkan Zaid adalah bekas budak, meskipun

Islam tidak mengenal diskriminasi berdasarkan ras, bangsa/suku bangsa, bahasa, dan sebagainya. Zaid menyadari hal itu (ketidakharmonisan rumah tangganya) dan tepa sehra, maka ia mohon izin kepada Nabi untuk menceraikan istrinya, tetapi Nabi menyuruh ia agar tetap mempertahankan rumah tangganya. Dan ia pun mentaatinya. Namun, setelah ternyata rumah tangga Zaid tetap tidak harmonis, dan semua Sahabat dan masyarakat tahu, maka akhirnya perceraian Zaid dengan Zainab diizinkan, dan bahkan setelah habis idahnya, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk mengawini Zainab, bekas istri anak angkatnya.

Surat Al-Ahzab ayat 37 yang menerangkan kasus Zaid dengan Zainab di atas adalah untuk menegaskan, bahwa:

1)      Adopsi seperti praktek dan tradisi di zaman Jahiliyah yang memberi status kepada anak angkat sama dengan status anak kandung tidak dibenarkan (dilarang) dan tidak diakui oleh Islam.

2)      Hubungan anak angkat dengan orang tua angkat dan keluarganya tetap seperti sebelum diadopsi, yang tidak mempengaruhi kemahraman dan kewarisan, baik anak angkat itu  iambil dari intern kerabat sendiri, seperti di Jawa, kebanyakan kemenakan sendiri diambil sebagai anak angkatnya, maupur, diambil dan luar lingkungan kerabat.

Namun, melihat hubungan yang sangat akrab antara anak angkat dan orang tua angkat, sehingga merupakan suatu kesatuan keluarga yang utuh yang diikat oleh rasa kasih sayang yang murni, dan memperhatikan pula pengabdian dan jasa anak angkat terhadap rumah tangga orang tua angkat termasuk kehidupan ekonominya, maka sesuai dengan asas keadilan yang dijunjung tinggi oleh Islam, secara moral orang tua angkat dituntut memberi hibah atau wasiat sebagian hartanya untuk kesejahteraan anak angknya. Dan apabila orang tua angkat waktu masih hidup lalai memberi hibah atau wasiat kepada anak angkat, maka seyogianya ahli waris orang tua angkatnya bersedia memberi hibah yang pantas dari harta peninggalan orang tua angkat yang sesuai dengan pengabdian dan jasa anak angkat.

Demikian pula hendaknya anak angkat yang telah mampu mandiri dan sejahtera hidupnya, bersikap etis dan manuslawi terhadap orang tua angkatnya dengan memberi hibah atau wasiat untuk kesejahteraan orang tua angkatnya yang telah berjasa membesarkan dan mendidiknya. Dan kalau anak angkat lalai memberi hibah atau wasiat untuk orang tua angkatnya, maka hendaknya ahli waris anak angkat hendaknya mau memberi hibah yang layak dari harta warisan anak angkat untuk kesejahteraan orang tua angkatnya.

Sikap orang tua angkat/ahli warisnya dan sebaliknya dengan pendekatan hibah atau wasiat sebagaimana diuraikan di atas, selain sesuai dengan asas keadilan Islam, juga untuk menghindari konflik antara orang tua angkat/ahli warisnya dan anak angkat/ahli warisnya, kalau mereka yang bersangkutan menuntut pembagian harta warisan menurut hukum adat yang belum tentu mencerminkan rasa keadilan menurut pandangan Islam.

Kalau kita perhatikan motif-motif adopsi di kalangan masyarakat Indonesia bermacamacam. Ada yang bermotif agar keluarga yang tidak punya anak itu memperoleh anak cucu yang akan meneruskan garis keturunannya, maka dalam hal ini Islam melarangnya. Ada yang bermaksud agar keluarga yang belum dikarunia anak itu mendapat anak sendiri (jadi semacam untuk mencari berkah atau pancingan (Jawa), atau mempunyai tujuan mendapat tenaga kerja: atau karena kasihan terhadap anak-anak kecil yang menjadi yatim piatu, maka dalam hal ini Islam tidak melarangnya, selama anak angkat tersebut tidak diberi status sebagai anak kandung sendiri, yang mempunyai hubungan kewarisan dari lain-lain.

Di kota, terkadang diketemukan bayi yang Baru lahir hidup (life birth) yang dibuang oleh orang tua/keluarganya untuk menutupi malu/aib keluarga, karena bayi lahir di luar perkawinan sebagai akibat kumpul kebo, free sex atau bayi itu dibuang atau ditinggalkan di rumah sakit karena yang bersangkutan tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya; maka Islam memandang orang-orang tersebut tidak bertanggung jawab yang menyebabkan terlantarnya bayi, bahkan bisa berakibat kematiannya. Karena itu,

berdosa besarlah mereka itu dan dapat dihukum, karena mereka melakukan tindak pidana (jarimah/jinayah, bhs. Arab). Pada sisi lain, Islam mewajibkan siapa saja yang menemukan bayi terlantar untuk segera menyelamatkan jiwanya; berdosalah orang yang

membiarkannya dan mendapat pahala orang yang menyelamatkannya, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 32:

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Apabila bayi yang tidak diketahui asal usulnya itu didatangi oleh satu keluarga Muslim yang mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya dan ia yakin bahwa bayi itu bukan anak orang lain (dengan adanya tanda/ciri-cirinya), maka demi menjaga kehormatan dan nama baik anak itu di tengah-tengah masyarakat dengan adanya orang tuanya yang jelas, dapatlah ditetapkan hubungan nasab anak tersebut dengan bapak/keluarga yang mengakuinya; dan terjadilah hubungan kemahraman dan kewarisan antara keduanya.

Apabila tidak ada seorang pun yang mau mengakui bayi tersebut, maka ia tetap berada di bawah perlindungan dan perwaliar orang yang memungutnya. Dan walinya inilah yang bertanggunjawah mengusahakan kesejahteraan hidupnya, jasmani dan rohaninya, termasuk pendidikan, pengajaran, dan ketrampilannya, agar kelak anak itu menjadi manusia yang saleh, yang berguna untuk dirinva sendiri, keluarga, umat, dan negara.

Untuk mencukupi semua kebutuhan hidup anak tersebut, walinya berhak meminta bantuan keuangan dari Baitul Mal, Jika Baitul Mal itu tidak ada atau ada tetapi keuangannya tidak mengizinkan maka menjadi kewajiban seluruh umat Islam uuntuk ber gotong-royong membantunya. Hal ini sesuai dengan firmah Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 2:

“Tollong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa”

Dan juga firmah Allah dalamSurat Al-Dahr ayat 8:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”

Gotong Royong umat Islam untuk menyantuni anak-anak terlantar dari anak yatim piatu, baik yang diketahui nasabnya, maupun yang tidak, dapat diwujudkan dalam bentuk Yayasan Panti Asuhan atau bisa juga dititipkan kepada keluarga-keluarga Muslim yang dapat dipercaya untuk mengasuh dan mendidik anak/anak-anak yatim di tengah-tengah keluarganya atas tanggungan pribadi keluarga muslim yang mau menerimanya.

About these ads
  1. June 30, 2010 at 11:05 am

    Ketentuan adopsi yg tdk menyamakan status anak angkat dengan anak kandung adl sgt rasional. Karena memenuhi asas keadilan dan kemanfaatan….

  2. December 15, 2010 at 2:09 pm

    salam kenal nich ,,, mantab mas artikelnnya

    semoga bermanfaat nich

  3. February 28, 2013 at 3:40 am

    I really like your blog.. very nice colors & theme.

    Did you make this website yourself or did you hire someone to do
    it for you? Plz respond as I’m looking to design my own blog and would like to know where u got this from. cheers

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: