Home > Artikel Pendidikan, Pengajaran dan Pendidikan > PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK


Oleh : Laili Qadarsih S.Pd., Qc.S

bayi adopsiDapat diartikan sebagai proses belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral agama (Yusuf, 2012: 65)

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi: meleburkan diri menjadi suatu kesatuan, saling berkomunikasi dan bekerja sama (Budiamin, dkk. 2006: 124)

Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya ataupun orang dewasa lain. (yusuf, 2000: 122)

Pada proses berikutnya perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau norma-norma kehiduapan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orangtua disebut sosialisai.

Ambron (dalam, Nurihsan dan Agustin 2006:124) mengartikan sosialisai itu sebagai proses belajar yang membimbing anak kearah perkembangan kepribadian social sehingga dapat menjadi anggota yang bertanggungjawab dan efektif.

Perkembangan sosial anak usia Sekolah Dasar memiliki karakteristik khusus dalam berprilaku yang direalisasikan dalam bentuk tindakan-tindakan tertentu. Yusuf (2000: 126) mengidentifikasi sebagai berikut:

  1. Pembangkangan (negativisme), yaitu bentuk tingkah laku melawan.
  2. Agresi (aggression), yaitu prilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal).
  3. Berselisih/bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap prilaku anak lain.
  4. Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif.
  5. Persaingan (rivaly), yaitu keinginan melebihi orang lain dan selau didorong (distimulasi) oleh orang lain.
  6. Kerja sama (cooperation), yaitu sikap mau bekerjasama dengan kelompok.
  7. Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap “bussiness”
  8. Mementingakn diri sendiri (selfishness), yaitu sikap egoisentris dalam memenuhi interest atau keinginan.
  9. Simpati (sympathy), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerjasama dengannya.
  10. Konteks sosial dalam perkembangan

Menurut teori Bronfenbrenner (dalam Santrock, terjemahan 2010: 90-101), konteks social dimana anak hidup akan mempengaruhi perkembangan anak. Berikut ini merupakan tiga konteks di mana anak menghabiskan sebagian besar waktunya: keluarga, teman sebaya-sepermainan (peer), dan sekolah.

  1. Keluarga

Situasi yang bervariasi di dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak dan akan mempengaruhi perkembangan anak dan mempengaruhi murid di dalam dan di luar ruang kelas (Cowan & Cowan, 2002; Morrison & Cooney, 2002).

Gaya Parenting

Baumrind mengatakan bahwa ada empat bentuk gaya pengasuhan atau parenting:

  1. Authoratian Parenting, gaya asuh yang membatasi (restrictive) dan menghukum (punitive) di mana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid; menghasilkan anak yang tidak kompeten secara social.
  2. Authoritative Parenting, gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka; percakapan ekstensif diizinkan; menghasilkan anak yang kompeten secara social.
  3. Neglectful Parenting, gaya asuh di mana orang tua tidak peduli, atau orang tua hanya meluangkan sedikit waktu dengan anak-anaknya; hasilnya adalah anak yang tidak kompeten secara sosial.
  4. Indulgent Parenting, gaya asuh di mana orang tua terlibat aktif tetapi hanya sedikit member batasan atau kekangan pada perilaku anak; hasilnya adalah anak yang tidak kompeten secara social.
  5. Teman Sebaya

Menurut Santrock (terjemahan, 2010: 100) dalam konteks perkembangan anak, teman seusia adalah anak pada usia yang sama atau pada level kedewasaan yang sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman seusia adalah memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Setidaknya terdapat empat tipe status teman sebaya, yaitu:

(a) Anak popular (popular children), seringkali dinominaasikan sebagai kawan terbaik dan jarang dibenci teman sebayanya.

(b) Anak diabaikan (neglected children), jarang dinominasikan sebagai kawan terbaik, tetapi bukannya tidak disukai oleh oleh teman sebayanya.

(c) Anak-anak ditolak (rejevted children), jarang dinominasikan sebagai kawan baik dan sering dibenci oleh teman-teman seusianya.

(d) Anak kontroversial (Controversial). Sering kali dinominasikan sebagai teman baik tapi juga kerap tidak disukai.

  1. Sekolah

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang berfungsi untuk memfasilitasi proses perkembangan anak secara menyeluruh. Tidak hanya aspek pengetahuan dan intelektual anak yang perlu diperhatikan dan dibina, akan tetapi keseluruhan aspek perkembangan termasuk aspek social anak.

Berikut ini terdapat beberapa implikasi yang perlu diperhatikan guru yang berkenaan dengan penciptaan suatu lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Pertama, untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menyadari dan menghayati pengalaman-pengalaman sosialnya. Dapat dilakukan aktivits-aktivitas bermain peran, pemutaran film dan aktivitas sejenis lainnya yang memperlihatkan kepada mereka bagaimana orang mengekspresikan social emosinya secara wajar dan tidak wajar serta kosekuensi-kosekuensinya.

Kedua, yang perlu diperhatikan adalah menonjolnya peranan teman sebaya bagi anak SD. Keberadaan teman sebaya bagi anak SD merupakan hal yang berarti, bukan saja sebagai sumber kesenangan bagi anak melainkan dapat membantu mengembangkan banyak aspek perkembangan anak.

Menurut Erikson (dalam Santrock, terjemahan 2010: 87-88), tema utama kehidupan ialah pencarian identitas. Identitas diri seseorang ini tidak sekedar menyangkut pemahaman dan penerimaan terhadap masyarakat (lingkungan).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: