Home > Arikel Islam > Antara Do`a dan Taqdir

Antara Do`a dan Taqdir


Ada tiga golongan atau tiga pendirian mengenai antara Taqdir dan do’a. Bagi kelompok perlama, di mana Tuhan telah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi di dunia ini, kita tidak bisa berbuat lain kecuali menyerahkan semua diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kita mengerjakan sesuatu karena Tuhan memerintahkannya. Terhadap pertanyaan apakah kita perlu berdo’a, mereka menjawab “perlu” karena Tuhan telah menyuruh kita untuk berdo`a. sejauh itu mereka tidak menanyakan apakah do’a itu akan mengubah taqdir tuhan atau tidak. bagi kelompok kedua, yang percaya bahwa Tuhan telah menentukan sifat-sifat tertentu kepada makhluk-Nya yang mereka artikan sebagai taqdir, do`a secara teoritis akan menjadi sebuah masalah. Mereka lebih menekankan amal yang dapat manusia pilih dan yang hasilnya akan menentukan nasib manusia di masa depan. Bagi mereka setiap perbuatan akan menghasilkan tertentu. Do`a      dipandang perlu karena do`a akan menimbulkan efek tertentu. Tapi tentu saja di sini akan timbul persoalan, sebab kalau do`a itu menghasilkan efek tertentu, maka semua do`a harus dipandang efektif. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua do`a efektif dalam arti dapat dikabulkan. Oleh mereka do`a tidak dipandang sebagai mengubah hukum alam. Karena hukum alam tidak bisa diubah. Barangkali do`a punya efek yang bersifat subjektif/psikologis ketimbang sebagai sesuatu yang menentukan hasil perbuatan seseorang.

Bagi kelompok ketiga, yang percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan tidak percaya pada keniscayaan hubungan kausalitas, do`a bisa sangat efektif, sekali Tuhan berkenan menerimanya. Sebab selalu terbuka kemungkinan bagi Tuhan untuk mengubah “adat” yang berlaku di alam semesta yang tidak mungkin menjadi mungkin. seperti

dikatakan al-Ghazali, bisa saja mengubah buku menjadi singa, sekalipun Tuhan tidak harus berbuat demikian. artinya, kalau Tuhan bermaksud mengabulkan permintaan seseorang untuk menjadi kaya, maka secara teoretis hal itu tidak mustahil, asal saja

Tuhan betul-betul menghendaki. Meskipun begitu, Tuhan tidak mesti juga mengabulkannya. Konsekuensi logis dari pendirian ini adalah bahwa mereka tidak mementingkan tindakan sebagai satu-satunya faktor yang menentukan. Tuhanlah yang menentukan secara sewenang-wenang. Meskipun begitu dalam kenyataannya mereka mengajukan konsep “kasb” atau usaha yang perlu manusia lakukan karena manusia dipandang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah itu. Pendirian mereka lebih tepat digambarkan sebagai berikut: Manusia berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan.

Categories: Arikel Islam Tags: , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: